yuuukk…, bahas masalah pasangan lagiiiiiiiiii

Assalamu’alaikum…

Ini bukan artikel religi…, tapi silahkan ditafsirkan sendiri ya nanti ^^v

Dulu pernah membaca artikel seorang teman maya dimana pada bagian-bagian awal mengklasifikasikan cewek mulai dari Level A sampai D (karena artikel yg beliau posting mendudukkan cewek sebagai subyek pengamatan, saya akan mendudukkan cowok sebagai subyek pembahasan :P), yang beliau mengakui sendiri bahwa secara kasar dan untuk kepentingan artikel tersebut, telah membagi cewek menjadi 4 tipe, dimana pengklasifikasian tersebut berdasarkan fisik, fisik, dan sekali lagi… FISIK!!!

Lanjuuuuttt…
Bahwa level cewek-cewek yang masuk kelas rendah tersebut dapat naik kelas karena faktor social value yang bisa berasal dari beberapa hal, diantaranya status sosial, intelektual, dan sebagainya.. (sorry, lupa).

Komentar terhadap artikel tersebut…., uuuurrghhh… gitu banget yah cara menilai cewek….???? Duniawi banget 🙁
Sama sekali tidak ada sentuhan religinya disini, kita melupakan Dia, Tuhan…

Ok, sebagian mungin akan merasa, ”munafik banget pake masuk2in Tuhan segala dalam urusan beginian” . Lhah.., kenapa nggak.

Inti dari artikel tersebut adalah perkara mencari jodoh. Dan landasan teori yang digunakan adalah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan materi duniawi. Sebenarnya kalau kita memasukkan variabel kuasa, ridlo, dan takdir Allah…, sepertinya kita tidak perlu ribet mengukur diri ini dan itu untuk menentukan kelayakan apakah pantas dapat cewek di level A, B, C atau Z sekalipun…

Tidak dipungkiri semua orang pasti berpikir dan bersikap demikian (termasuk akyuuuuuuu ^^).. Saya pun pernah salah menilai atau mengukur seseorang dengan tolok ukur seperti tersebut dalam artikel (narasumber dilindungi yah… ). Tapi marilah kita saling berupaya menyederhanakan hati dan pikiran, bahwa dalam ”memilih” seseorang, materi duniawi (ya fisik lah, ya status sosial lah), walaupun penting, bukanlah faktor utamaaaa.

Melaui cerita teman yang sedang menjenguk beliau, Guru SD saya pernah bilang bahwa hubungan rumah tangga yang diawali pada keadaan dimana keduanya sama-sama dalam kondisi fakir, dalam kondisi kosong-kosong dapat menjadi sesuatu yang baik…

Saya menyaksikan sendiri hubungan pernikahan yang diawali betul-betul dalam keadaan keduanya masih fakir. Prihatin. Melas. Mesakne. Tapi keduanya mempunyai ketekunan ibadah yang luar biasa dan keyakinan yang mendalam bahwa Allah punya rencana besar untuk mereka. Dan perlahan, disamping ketebalan iman yang bertambah, kesuksesan duniawi pun mengikuti. Syaratnya…, kedua belah pihak harus memiliki potensi diri yang terus dipupuk dan giat dalam berusaha memperbaiki diri dan hidup alias bekerja keras.

Seseorang yang disandingkan pada mereka (para Adam) kelak
adalah sekedar Hawa yang mungkin tidak seperti Fatima, Aisya, Khadijah, ataupun Siti Hajar seperti panutan kaum Hawa.

Toh ada kemungkinan bukan kaum Hawa pun berpikir… (sebenarnya saya pribadi berpikir) bahwa dia, yang disandingkan kelak… mungkin memang bukanlah Adam yang rupawan seperti Yusuf yang Dia sebut dalam firmanNya..
Bukanlah Sulaeman yang hartawan seperti yang Dia sebut dalam firmanNya
Pun jua tak secuil pun mendekati kesempurnaan Muhammad yang telah menjadi panutan kita…

Namun hanya Allah yang tahu
Mungkin dengan melihat pasangan kita yang – (barangkali) menurut ukuran kita- tidak sempurna
maka kita sadar bahwa kita pun tak sempurna
Dengan melihatnya kita tahu bahwa kelebihan diri bukan untuk dipertonjolkan, diperirikan atau menjadi bahan kesombongan diri atas keberadaannya..
Dengan melihatnya kita tahu bahwa diri ini sekedar ruh hina berbalut daging manusia, tak berarti apa-apa ketika harta, tahta dan rupawannya wajah surut sejalannya waktu
Dan dengan melihatnya kita akan tahu bahwa hanya Dia lah yang layak kita cintai sepenuh hati

coba lihat petikan di bawah yang saya sadur dari teman:

Ketika kau melihat pasanganmu…
sadarilah….
bahwa sepasang laki-laki dan perempuan,
secara fitri mempunyai kelebihan dan kekurangannnya sendiri-sendiri.
Kelebihan-kelebihan itu bukan untuk diperbanggakan atau diperirikan.
Kekurangan-kekurang pun bukan untuk diperejekkan atau dibuat merendahkan.
Tapi semua itu merupakan peluang bagi kedua pasangan untuk saling melengkapi

Apabila pasangan masing-masing lebih memperhatikan dan melaksanakan kewajibannya terhadap
pasangannya daripada menuntut haknya saja, Insya Allah, keharmonisan dan
kebahagian hidup mereka akan lestari sampai Hari Akhir

Keduanya harus bersama-sama berjuang membangun kehidupan
dengan akhlak yang mulia dan menjaga keselamatan dan keistiqamahannya selalu.
Agar terwujud kebahagian hakiki di dunia maupun di akhirat kelak, Insya Allah

[taken from “Gus Welirang” welirang@gmail.com
by A. Mustofa Bisri]

————————————————————-
maaf jika tulisan ini tidak berkenan di hati… yang penting dah dibaca toh ^^
salam ukhuwah…

Wassalam…